Press Release

Bedah Buku : ”Dari Tiong Hoa Hwe Koan 1900 sampai Sekolah Terpadu PAHOA 2008”

November 17, 2012

PT Summarecon Agung Tbk. (Summarecon) bekerjasama dengan Yayasan Nation Building (Nabil), menyelenggarakan acara Bedah Buku  yang berjudul “Dari Tiong Hoa Hwe Koan 1900 sampai Sekolah Terpadu Pahoa 2008” di Ballroom Hotel Harris Kelapa Gading pada Sabtu 17 November 2012. Acara Bedah Buku yang dihadiri oleh ratusan undangan ini, datang dari berbagai kalangan yang ingin mengetahui seluk beluk sejarah masyarakat Tionghoa dalam mengembangkan sistem pendidikan di Indonesia. Acara Bedah Buku ini menghadirkan pembicara Drs Eddie Lembong (Ketua Pendiri Yayasan Nabil) dan Drs. Hans Kartikahadi (YPP Sekolah Pahoa), dengan dipandu oleh Sejarawan, Didi Kwartanada.

Saat ini tidak banyak literatur yang mendokumentasikan perjalanan maupun kontribusi masyarakat Tionghoa terhadap dunia pendidikan Indonesia. Sehingga keberadaan sekolah Tionghoa  di Indonesia pada masa penjajahan Belanda dan Jepang kurang banyak diketahui oleh masyarakat luas. Padahal fakta-fakta tertulis menemukan bahwa perjuangan masyarakat Tionghoa dalam mendirikan organisasi dan lembaga pendidikan (sekolah) telah banyak memberikan inspirasi  bagi berdirinya sekolah swasta pribumi, bahkan hingga tercetusnya semangat nasionalisme dalam Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928.

Minimnya literatur mengenai sejarah dan kontribusi masyarakat Tionghoa dalam dunia pendidikan modern Indonesia menjadi dasar untuk diterbitkannya buku “Dari Tiong Hoa Hwe Koan 1900 sampai Sekolah Terpadu PAHOA 2008”. Buku ini ditulis oleh Iskandar Jusuf, seorang lulusan Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia, yang sering menulis artikel-artikel tentang masalah Bangsa Indonesia etnis Tionghoa di Surat Kabar Suara Pembaruan, dan juga aktif dalam Yayasan Pendidikan dan Pengajaran PAHOA.

Sejarah jatuh bangun masyarakat Tionghoa yang disajikan dalam buku ini merupakan hal yang menarik untuk disimak. Karena eksistensi etnis Tionghoa dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia tak dapat dipisahkan. Masyarakat etnis Tionghoa turut memberikan warna dan andil dalam berbagai sendi kehidupan dan budaya, salah satunya adalah di dunia pendidikan.

Pada buku ini diungkapkan fakta, pada akhir abad ke-19, sejumlah pemimpin Tionghoa peranakan yang berpendidikan Barat memulai gerakan pembaruan untuk memperbaiki kondisi sosial masyarakat Tionghoa, dengan mendirikan perkumpulan Tiong Hoa Hwe Koan (THHK). Setahun setelah berdirinya THHK, pada tanggal 17 Maret 1901 didirikan sekolah THHK, yang menempati gedung perkumpulan THHK di Jalan Patekoan atau sekarang dikenal sebagai jalan Perniagaan, yang dibeli dari Nederlandsch Indische Hypotheek Bank di Batavia. Karena lokasinya, maka sekolah ini disebut Patekoan Tiong Hoa Hwe Koan atau disingkat menjadi Pa Hoa.

Sekolah Pa Hoa menjadi perintis sekolah swasta modern di zaman penjajahan Belanda dengan bahasa pengantar bukan Bahasa Belanda, melainkan bahasa Mandarin (Han Yu), Bahasa Inggris dan Bahasa Melayu. Berdirinya THHK dan sekolah THHK/Pa Hoa ,  menginspirasi kebangkitan organisasi-organisasi pergerakan modern, yakni Boedi Oetomo (1908), Muhammadiyah (1911/1912) dan Taman Siswa (1922) yang merupakan taman persemaian bibit nasionalisme. Bibit ini kemudian mencetuskan Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928.

Fakta bahwa sekolah THHK/Pa Hoa memberikan inspirasi bagi pergerakan Boedi Oetomo adalah ucapan Dr Wahidin Sudirohusodo, salah seorang pendiri perkumpulan tersebut. Beliau pernah mengatakan, “organisasi kemasyarakatan Tionghoa memacu orang Jawa untuk mendirikan organisasinya sendiri.” Pada tahun 1910, Pengurus THHK dan Boedi Oetomo sempat pula mengadakan pertemuan untuk bertukar pengalaman dalam kegiatan organisasi.
Sejarah Sekolah Pa Hoa mengalami masa pasang surut. Pada zaman pendudukan Jepang, sekolah ini sempat ditutup. Bahkan di era pemerintahan Orde Baru, sekolah Pa Hoa ditutup dan gedungnya kemudian diambil alih dan dijadikan sekolah negeri. Memasuki era Reformasi, diskriminasi terhadap masyarakat keturunan Tionghoa mulai memudar dan ide untuk menghidupkan kembali Sekolah Pa Hoa mulai muncul. Pada tahun 2008, berkat upaya para alumninya, sekolah ini terlahir kembali dengan nama Sekolah Terpadu Pahoa  (kata Pa Hoa dirangkai menjadi Pahoa), yang berlokasi di jalan Ki Hajar Dewantara, Summarecon Serpong, Tangerang.  

Hadirnya buku ini diharapkan dapat membuka wawasan kita semua, terutama generasi muda, untuk memahami sejarah, perjuangan dan kontribusi masyarakat Tionghoa dalam peran sertanya turut memajukan Indonesia, khususnya di bidang pendidikan.

 

Jakarta, November 2012
Diterbitkan oleh:
Corporate Communication
PT Summarecon Agung, Tbk
Telp. (021) 4714567/ (021)453-1101
Fax . (021) 471-4557/ (021)453 - 3433
E-mail : publicrelation@summarecon.com